Jumat, 30 Desember 2016

Kampanye Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Tentang Rokok dan Bahayanya

Data survei 2015 menunjukkan 66% pria di Indonesia merokok artinya 2 dari 3 remaja laki-laki maupun usia produktif merokok fakta ini menempatkan Indonesia di peringkat 1 dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun di ikuti Rusia dan Tiongkok
Rokok dan Bahayanya
Di Indonesia kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya rokok masih kalah gencar dengan iklan-iklan rokok, tidak heran Indonesia masih jadi surga para perokok.

Data survei 2015 menunjukkan 66% pria di Indonesia merokok artinya 2 dari 3 remaja laki-laki maupun usia produktif merokok fakta ini menempatkan Indonesia di peringkat 1 dunia untuk jumlah pria perokok di atas usia 15 tahun di ikuti Rusia dan Tiongkok. Industri rokok di Indonesia sepertinya tidak akan mati, ini karena ada 90 juta perokok di negeri ini yang jadi pasar produk tembakau.

Dan yang paling mencemaskan usia perokok makin muda, di Indonesia anak-anak usia sekolah yang sudah mendapat uang jajan juga mampu membeli rokok dengan harga yang sangat murah inilah mengapa data yang digelar organisasi kesehatan dunia WHO tahun 2014 menunjukkan Prevalensi perokok anak usia 13 sampai 15 tahun di Indonesia mencapai 20,3% sementara data riset kesehatan dasar 2013 perokok aktif mulai dari usia 10 tahun ke atas berjumlah hampir 59 juta orang. Jumlah ini lebih dari 10 kali lipat seluruh penduduk Singapura.

Pada 2014 di seluruh dunia diperkirakan ada 5,8 triliun batang rokok di hisap jumlahnya tiap tahun terus meningkat, di Indonesia sendiri data Kementerian Kesehatan tahun 2011 ada lebih dari 225 miliar batang rokok di bakar setiap tahunnya atau hampir 617 ribu batang rokok tiap harinya. Jika harga 1 batang rokok 1.000 rupiah sama artinya kita telah membakar uang lebih dari 225 triliun rupiah setiap tahunnya.

Bahaya rokok bukan hanya mengancam kesehatan perokok itu sendiri tapi juga orang-orang di sekitarnya yang terpapar asap rokok, dari 4 ribu zat kimia berbahaya yang terkandung dalam sebatang rokok 60 di antaranya bersifat karsinogen atau memicu kanker dan hanya 25% yang masuk ke tubuh perokok sementara 75% di hirup oleh orang di sekelilingnya. Rokok berhubungan dengan sedikitnya 25 penyakit di tubuh manusia.

Risiko terkena penyakit pada perokok lebih besar dibanding orang yang tidak merokok, kebiasaan merokok merupakan salah satu faktor risiko 6 dari 8 penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia. Seperti Jantung, setruk, penyakit paru kronik, diabetes hingga kanker sejumlah penyakit ini menempati urutan teratas daftar penyakit yang paling banyak dibiayai dari dana yang di kelola Badan Jaminan Kesejahteraan Sosial atau BPJS Kesehatan Jumlahnya lebih dari 70% dana BPJS.

Berdasarkan data kliem Indonesian Health Economic Association (InaHEA) Group sampai Januari 2016 penyakit jantung paling banyak membutuhkan biaya pengobatan yaitu 6,9 triliun rupiah disusul kanker 1,8 triliun rupiah, setruk 1,5 triliun rupiah, sakit ginjal 1,5 triliun rupiah dan diabetes 1,2 triliun rupiah.

Menurut data survei tahun 2014 setidaknya 190.260 orang di Indonesia meninggal dunia akibat konsumsi rokok itu sama artinya setiap hari ada 500 orang meninggal karena rokok. Kementerian Kesehatan mengungkapkan kerugian total akibat konsumsi rokok selama 2019 mencapai 878,75 triliun rupiah jumlah ini berasal dari kerugian akibat membeli rokok. 138 triliun rupiah hilangnya produktivitas akibat sakit disabilitas dan kematian prematur di usia muda sebesar 235,4 triliun rupiah dan biaya berobat akibat penyakit-penyakit terkait tembakau sebanyak 5,35 triliun rupiah dan jumlah kerugian total akibat konsumsi rokok ini 3,7 kali lebih besar di banding cukai tembakau yang diperoleh negara sebesar lebih dari 103 triliun rupiah. Jadi kenaikan harga rokok justru memberi keuntungan bagi masyarakat maupun Pemerintah.

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyebut kebiasaan merokok adalah perangkap kemiskinan, ini lantaran jumlah uang yang dibelanjakan untuk kebutuhan primer menurun. Beberapa yang di korbankan akibat merokok adalah sektor pendidikan, kesehatan dan gizi keluarga. Di Indonesia 69% rumah tangga memiliki alokasi pengeluaran untuk rokok, Study LPEM menyebutkan pengeluaran untuk rokok dan susu pada rumah tangga termiskin setara dengan 13 kali pengeluaran pembelian daging, 5 kali lebih besar dari pembelian susu dan telur dan 2 kali lebih besar dari pembelian ikan dan sayuran.

Mengonsumsi 1 bungkus rokok/hari seharga 10.000 rupiah/bungkus setara dengan 36,5 juta rupiah/tahun dan kelompok terbesar pengonsumsi rokok adalah kelompok masyarakat miskin dan berpendidikan rendah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar